stills1

Postmortem: Global Game Jam 2015

Pertama-tama, saya minta maaf karena terlambat membuat tulisan sehari — saya tertahan oleh beberapa tugas kuliah yang harus dikerjakan.

Saya begitu berminat dengan dunia pengembangan video game sejak kuliah. Bahkan, dapat dikatakan bahwa tujuan saya kuliah di Teknik Informatika ITB adalah untuk belajar membuat video game. Namun, selama tiga tahun lebih kuliah saya baru hanya ikut terlibat dalam pembuatan satu game berjudul ‘Tebak Nusantara’ bersama dua orang teman saya. Saya belum pernah membuat video game yang benar-benar saya inginkan sendiri, dengan konsep saya sendiri. Beberapa kali saya mencoba ikut game jam seperti Ludum Dare, hanya untuk kecewa karena gagal menyelesaikan game yang saya rencanakan.

Kemudian saya ikut Global Game Jam (GGJ) dan berhasil membuat game pertama saya.

Continue reading →

sg vs logh

Pseudoriset: Melawan Tua — Anime Lama vs Anime Baru

Ah, anime lama dan anime baru — perdebatan yang tak berujung. Anime lama kerap dikatakan kuno, memiliki kualitas gambar yang rendah, dan memiliki cerita yang terlalu suram. Di sisi lain, anime baru kerap dikatakan terlalu banyak berkutat pada moe, terlalu mengutamakan fanservice, dan memiliki cerita yang terlalu sederhana.

Saya sendiri adalah orang yang meskipun cukup banyak menikmati dan menyukai anime-anime baru, beberapa anime jadul seperti Legend of Galactic Heroes serta Revolutionary Girl Utena menarik hati saya.

Untuk menentukan manakah yang lebih bagus atau jelek antara anime lama dan anime baru, saya mencoba melakukan sebuah penelitian kecil-kecilan dengan memanfaatkan data dari situs anime Anime News Network (ANN). Saya berharap data yang saya kumpulkan dapat bermanfaat sebagai pencerahan mengenai debat tak berujung antara anime lama dan baru.

Continue reading →

The Hobbit TBFA 3

Review: The Hobbit – The Battle of the Five Armies

The Hobbit TBFA Poster

Saya bukan penonton yang memiliki jam terbang tinggi terhadap dunia medieval fantasySkyrim menjadi permainan medieval fantasy terakhir yang saya mainkan, setelah sebelumnya bermain Oblivion. Mengenai film, jam terbang saya nyaris kosong — saya ingat beberapa adegan dari serial lawas Xena dan film Narnia, namun saya tidak pernah menonton film dengan genre tersebut sampai habis. Ah, saya baru teringat sudah menonton 300 — jika film tersebut masuk kategori medieval fantasy.

Oleh karena itu, The Hobbit: The Battle of the Five Armies (TBFA) menjadi film perkenalan saya ke dunia medieval fantasy, ketika orang-orang mengucapkan salam perpisahan dengan Middle Earth. Meskipun beberapa review mengatakan TBFA merupakan film terlemah dari The Hobbit dan film Middle Earth secara keseluruhan, menurut saya film ini cukup sukses membuat saya tertarik dengan medieval fantasy.

Continue reading →

Paddington Film 3

Review: Paddington

Paddington Poster

Menjelang akhir tahun kemarin saya menonton film ini bersama keluarga di bioskop. Semula saya kira Paddington tak ubahnya film keluarga biasa, namun saya salah; Paddington adalah film keluarga yang sangat menyenangkan.

Paddington bercerita mengenai seekor beruang asal Peru yang terjebak di sebuah stasiun kereta api di Inggris, di mana akhirnya sang beruang diadopsi oleh seorang keluarga. Film ini mampu menyajikan konsep yang sebenarnya sudah klise dan usang (makhluk langka yang diburu oleh seorang jahat) menjadi satu tontonan yang sangat menghibur.

Continue reading →

2

Review: Pendekar Tongkat Emas #nontonPTE

Saya pertama kali mengetahui film ini dari teman dan dari salah satu episode Kick Andy yang mengundang kru-kru Pendekar Tongkat Emas. Di sana, disebutkan bahwa konon film ini menggunakan koreografer asal negeri Tiongkok sana, yang konon merupakan aktor pengganti Jet Li.

Walhasil, saya memutuskan untuk menonton film ini di bioskop dengan ekspektasi sebuah film laga ala pertarungan The Raid atau setidaknya film laga asal negeri Cina yang sering ibu saya tonton di televisi. Selain itu, dari trailer-nya saya mengharapkan pengetahuan baru mengenai kebudayaan Sumba.

Continue reading →

Sundel bolong, astaga.

Review: DreadOut

Saya pertama kali tahu tentang DreadOut dari teman ketika game ini dirilis bulan Mei 2014. Saat itu penilaian tentang DreadOut adalah game yang tidak memenuhi ekspektasi yang diharapkan. Ketika itu, saya belum membeli dan bermain DreadOut.

Bulan ini, saya tertarik lagi dengan DreadOut setelah membaca sebuah review dari Polygon mengenai DreadOut. Selain nilainya yang relatif standar, terdapat kritik mengenai ketiadaan “Act 2″ dan beberapa komentar-komentar bernada sumbang di bagian komentarnya. Ketika sebuah situs setingkat Polygon dikatakan “hilarious”, kemungkinannya hanya ada 3: entah Polygon, DreadOut, atau pemberi komentar yang salah. Karena saya penasaran, saya memutuskan untuk mengeluarkan uang 165 ribu membeli DreadOut di Steam.

Sebagai catatan, saya memainkan DreadOut versi 1.6.1 di sebuah komputer 64-bit. Ketika artikel ini ditulis, terdapat DreadOut versi 1.9.0 yang konon menyediakan beberapa perbaikan terutama untuk masalah texture.

Continue reading →

A screenshot of Stand by Me Doraemon trailer, showing Doraemon's head.

Review: Stand by Me Doraemon

The title card for Stand by Me Doraemon.

Saya akhirnya dapat menyaksikan sendiri film Stand by Me Doraemon di bioskop bersama dengan teman-teman dari kampus. Setelah membaca tulisan mengenai film tersebut yang konon mampu membuat banyak orang menangis, saya memiliki ekspektasi tinggi dengan film ini — saya bukan penggemar fanatik Doraemon, namun saya suka membaca komiknya dan terpukau dengan beberapa film Doraemon yang pernah diputar di televisi.

Hasilnya? Ekspektasi saya akan sebuah film dramatis dan mengharukan tidak tercapai untuk saya. Namun, Stand by Me adalah sebuah film yang menarik, indah, dan what a ride.

Perhatian: Saya berusaha menghindari spoiler ketika menulis review ini dan akan memberi tanda bahwa sebuah bagian tulisan mengandung spoiler. Namun, semua penonton film pasti tahu bahwa setiap review pasti mengandung spoiler meskipun sedikit.

Continue reading →